Minggu, 17 Oktober 2010

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Par

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Biodata B.J. Habibie

Nama : Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir : Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama : Islam
Jabatan : Presiden RI Ketiga (1998-1999)

Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center
Istri : dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)
Anak : Ilham Akbar dan Thareq Kemal
Cucu : Empat orang
Ayah : Alwi Abdul Jalil Habibie
Ibu : R.A. Tuti Marini Puspowardoyo
Jumlah Saudara: Anak Keempat dari Delapan Bersaudara

Pendidikan :
• ITB Bandung, tahun 1954
• Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
• Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).
• Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.

Pekerjaan :
• Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
• Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
• Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
• Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
• Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
• Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
• Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
• Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
• Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.

Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan:
Theodore van Karman Award
Sumber:
Dari berbagai sumber antara lain The Habibie Center dan Soeharto Center.com

Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie

Masa Bakti 1998 -- 1999














Nama

R.A. Tuti Marini Puspowardojo

Hubungan

Ibu

Riwayat

tuti-marini.jpg Tuti Marini lahir dengan nama Toeti Saptorini pada tanggal 10 Nopember 1911 di kota Yogyakarta. Orang tuanya adalah seorang terpelajar dari keluarga Bangsawan, Ayahnya R. Poespowardoyo dan ibunya Rr. Goemoek (Sadini). Dengan latar belakang demikian, tentu saja pendidikan merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam mendidik dan membesarkan Tuti Martini. Tradisi intelektual telah ditanamkan oleh orang tuanya sejak dini disamping pengajaran keagamaan serta nilai-nilai tradisi yang dimiliki sebagai warisan leluhur tetap dipelihara. Ketika ia masih duduk di bangku sekolah HBS (Hogere Burger School), Tuti berkenalan dengan seorang pemuda seberang yang berasal dari daerah Gorontalo bernama Alwi Abdul Jalil Habibie seorang pelajar di Sekolah Pertanian Bogor. Setelah menyelesaikan studinya di Bogor, Alwi Abdul Jalil Habibie melamar Tuti Marini Puspowardojo dan dilanjutkan dengan pernikahan. Tidak lama kemudian Alwi Abdul Jalil diangkat sebagai Ahli Pertanian di Afdeling kota Pare-Pare, sehingga Tuti Marini harus meninggalkan semua kenangan indah masa kecil di kota Yogyakarta. Di kota Pare-Pare Tuti menjalani hari-harinya sebagai ibu muda dan dikarunia sembilan orang anak, namun satu diantaranya meninggal dunia ketika masih berusia 1 tahun. Tuti menyibukkan diri dengan mengurus dan membimbing anak-anaknya agar menjadi anak yang sehat, tangkas dan disiplin dan memperkenalkan mereka pada budaya Jawa yang menjadi kekayaan batinnya. Dari kedelapan anak-anaknya, ada dua diantaranya yang sangat menonjol baik dalam prestasi maupun tingkah lakunya, yaitu Rudy (panggilan akrab B.J. Habibie) dan adiknya Fanny (panggilan akrab Junus Effendi). Meski memiliki sifat yang bertolak belakang, kedua anak tersebut memiliki potensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan saudara-saudara dan teman-temannya. Namun demikian sebagai seorang ibu, Tuti tetap berusaha memperlakukan anak-anaknya secara adil dan kebanggaan Tuti terhadap anak-anaknya terutama Rudy adalah sebuah pengecualian. Hingga pada suatu hari Rudy menderita sakit yang cukup parah, karena tenaga dokter di daerah tersebut belum ada mereka membawanya kepada seseorang yang dianggap pintar mengobati yaitu Raja Bau Djondjo Kalimullah Kara Engta Lembang Parang Arung Barru. Lewat bantuan raja tersebut yang memberinya air jampi-jampi kondisi Rudy berangsur-angsur pulih kembali. Ada kejadian menarik yang selalu dikenang Tuti tenang Rudy, karena wajah Rudy sangat mirip dengan wajah ayahnya maka menurut kepercayaan orang Bugis, Rudy harus dijual. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan terjadi suatu musibah yakni salah satu dari mereka akan meninggal dunia atau terpisah secara berjauhan. Oleh karena itu dalam sebuah upacara adapt Rudy dibeli secara simbolis oleh Raja Barru dengan sebilah keris. Pada tahun 1942, tersiar kabar bala tentara Jepang akan memasuki wilayah Pare-Pare sehingga keluarga Tuti bersama warga lainnya terpaksa meninggalkan rumah serta sebagian kekayaannya untuk mengungsi ke desa Tete Aji. Setelah Belanda menyerah kepada tentara Jepang, keluarga Tuti Marini kembali ke Pare-Pare, namun tidak lama kemudian sekutu datang menyerang. Ketika peperangan antara sekutu melawan Jepang semakin sengit, Tuti Marini bersama keluarga terpaksa mengungsi kembali dengan dibantu oleh Aru Malusitasi mereka menyingkir ke Desa Landrai di kota Kecamatan Palanro yang terletak di jalan besar tepi pantai antara Makassar dan Pare-Pare. Mereka kembali ke Pare-Pare setelah Jepang dikalahkan oleh sekutu dan setelah itu datang tentara Australia untuk mengambil alih kekuasaan. Pada tahun 1947 suami Tuti, Alwi Abdul Jalil Habibie dipromosikan menjadi Kepala Pertanian untuk wilayah Indonesia Timur yang berkedudukan di Makassar, sehingga Tuti dan keluarga pindah ke Makassar dan dapat berkumpul kembali dengan B.J. Habibie dan kakak-kakaknya. Pada tanggal 3 September 1950 ketika sedang Sholat Isya, Alwi Abdul Jalil Habibie mendapat serangan jantung, seketika kepanikan melanda keluarga ini. Tuti Marini meminta anak tertuanya untuk mencari pertolongan, namun sebelum melakukan pertolongan lebih jauh nyawa Alwi Abdul Jalil Habibie sudah tidak dapat diselamatkan. Saat ayahnya meninggal Rudy baru menginjak kelas 2 Concordante HBS. Meski tantangan ekonomi yang dihadapi semakin berat, Tuti Marini masih melihat harapan besar pada anak-anaknya sehingga ia memutuskan menyekolahkan Rudy di Bandung agar mendapat pendidikan yang lebih baik. Akhirnya Tuti Marini memutuskan untuk pindah ke Bandung dan mendampingi Rudy menjalani pendidikannya. Rudy melanjutkan sekolah ke HBS namun atas kemauannya sendiri ia pindah ke SMP Negeri 5 dan kemudian pindah sekolah lagi. Rudy akhirnya lulus test masuk ITB dengan hasil yang sangat memuaskan dan tertarik dengan bidang pesawat terbang. Melihat perkembangn ini Tuti Marini berniat menyekolahkan Rudy ke Jerman dengan biaya sendiri dan akhirnya ia memperoleh izin membeli devisa pemerintah. Pada bulan Juli 1959, Tuti mendapat kabar bahwa B.J. Habibie terbaring tak berdaya di rumah sakit, virus influenza di tubuh Rudy menyerang jantung. Tuti menyusul ke Jerman dan berupaya membangkitkan semangat hidup anaknya hingga akhirnya Rudy berangsur-angsur pulih kembali dan melanjutkan studinya sehingga akhirnya Rudy berhasil menjadi insinyur sebagai lulusan terbaik. Tuti sempat merasakan keberhasilan putra-putrinya sebagai manusia yang memiliki martabat dan juga ia telah menunaikan janjinya kepada sang suami. Di usia 79 tahun, Tuti Marini menjalani operasi bypass jantung dan dirawat selama hampir dua bulan di RS Mounth Elizabeth Singapura. Tuti Marini menghembuskan nafasnya yang terakhir di Bandung pada tanggal 24 Juni 1990 dengan disaksikan oleh kedelapan putra-putrinya dan kemudian jenazahnya diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di TPU Tanah Kusir berdampingan dengan makam almarhum suaminya yang telah dipindahkan dari Ujung Pandang.

Sumber : Ibu Indonesia Dalam Kenangan oleh Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Diterbitkan oleh Bank Naskah Gramedia bekerja sama dengan Yayasan Biografi Indonesia, 2004



Nama

Hasri Ainun Besari

Hubungan

Istri

Riwayat

ainun.jpg Hasri Ainun Besari

dr. Hasri Ainun Habibie Lahir di Semarang, 11 Agustus 1937 anak ke empat dari delapan bersaudara keluarga Almarhum H.Mohammad Besari yang beralamat di Jalan Ranggamalela No. 21 Bandung, Putri berbintang Leo ini di beri nama Hasri Ainun yang kurang lebih berarti mata yang indah. Hasri Ainun kuliah di Fakultas Kedokteran di Jakarta


Hasri Ainun Habibie pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto mangunkusumo, Jakarta. Dan tinggalnya di Asrama Belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jalan Kimia.


Menikah dengan BJ. Habibie pada tanggal 12 Mei 1962, berbulan madu di Kalurang Yogyakarta, Bali dan dilanjutkan di Ujung Pandang.


Mempunyaianak dua orang yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal, serta Cucu:Empat orang


Nama

Ilham Akbar Habibie

Hubungan

Anak

Riwayat


ilham.jpg Ilham Akbar Habibie, lahir di Aachen, Germany pada tanggal 16 May 1963, ilham anak pertama pasangan Bucharuddin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun Besari. Lahir dan besar di luar negeri, bagi Ilham Akbar Habibie, di satu sisi merepotkan, tapi di sisi lain sangat menguntungkan. Sebab kebiasaan membaca dan mendapatkan bahan bacaan sangat didukung oleh pemerintah.
Lahir dan besar di Jerman, Ilham tumbuh sebagai manusia yang menyukai beragam bacaan. Hasilnya, dia berhasil menjadi ilmuwan dan pengusaha. Dia bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah berupa Bintang Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda atas prestasinya.
Ilham suka macam-macam buku. Selain buku teknik dan bisnis, silham juga suka buku fiksi dan filsafat. Fiksi ilmiah yang sangat disukai adalah karya Dan Brown yang menulis Da Vinci Code,” hal itu ia kemukakam usai peresmian Alumni Club University of Chicago di Hotel Four Season.
Jebolan Phd dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman, itu mengakui Dan Brown mampu membuat novel yang menghibur.
Namun lebih dari itu, dalam setiap karya Brown, Ilham mengaku selalu mendapatkan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. “Ini mendukung kesukaan nya untuk selalu meningkatkan pengetahuan.
Sayangnya, saat ini Ilham termasuk orang yang sangat sibuk. Tak hanya memegang sejumlah posisi penting di beragam perusahaan swasta dan pemerintah, dia juga masih tetap memimpikan pesawat rancangannya mengudara.
Akibatnya, tak setiap hari dalam kesibukannya itu Ilham bisa menyempatkan diri untuk membaca buku. “Sekarang memang tidak bisa setiap hari baca buku. Tetapi bisa saya pastikan sekurang-kurangnya dua hingga tiga buku yang tebal pasti di selesaikan dalam sebulan.”
Tentu saja selain karya Brown yang mencuri hatinya. Karya Pramudya Ananta Toer, yang memukau pembaca di seluruh dunia dan pernah diharamkan oleh Orde Baru, pun dia lahap.
Menurut dia, buku-buku Pram sangat menarik sebab selain cara penulisannya sangat baik, dari novel-novel tersebut sangat jelas terlihat penguasaan Pram yang mendalam terhadap hal-hal yang ditulisnya.
Ilham banyak menemukan hal-hal yang seringkali sebelumnya tidak di ketahui karena tidak pernah dibahas dalam buku sejarah. Meski tak dapat dihindari aspek politis masuk dalam karya-karya Pram.”
Ilham juga termasuk penggemar cerita-cerita kriminal yang menegangkan dan memaksa orang berpikir. Salah sa-tunya karya Jan Willem van Witering asal Belanda.
Menurut Ilham, penulis itu tak hanya mahir menulis novel cerita detektif yang rumit, tetapi selalu berusaha memandang setiap persoalan yang terjadi dengan falsafah Budha yang harmonis dan humanis. Di matanya, karya Van Witering unik sebab setiap kasus tidak dilihat siapa pelaku-nya tetapi alasan pelaku melakukan tindakan tersebut.
Novel setebal bantal pun dia lahap. Sebut saja karya Umberto Echo dari Italia yang spesialis novel sejarah seperti Enemy of the Rose yang menceritakan betapa sulitnya mendapatkan pendidikan di Eropa pada abad pertengahan saat hirarki otoriter gereja berkuasa.

Ilham menikah dan di karuniai tiga anak.

Pendidikan Formalnya:
1969 – 1973 : Elementary School Windmuehlenweg, Hamburg, Germany;
1973 – 1981 : High School Hochrad, Hamburg, Germany;
1981 – 1986 : Technical University of Munich, Germany (Faculty of Mechanical Engineering, Sub-Faculty Aeronautical Engineering);
February 1987 : Graduated as Diploma – Ingenieur (Technical University of Munich, Germany) with Cum Laude;
July 1994 : Graduated as Doktor – Ingenieur (Technical University of Munich, Germany) with Summa Cum Laude;
April – June : International Executive Program, INSEAD, Fontainbleau, France, and
1999 Singapore;
2001-2003 : Executive MBA Program, Graduate School of Business, University of Chicago, Singapore Campus.
2003 : Graduated as MBA (Graduate School of Business, University of Chicago).
Riwayat Pekerjaan:
2002 – now : C.E.O. / President, PT. ILTHABI Rekatama (IR); (privately-owned Financial Holding and Investment Company)
2002 – now : Commissioner of PT. Asuransi Wuwungan (General Insurance, associate company of IR)
2003 – 2006 : C.E.O. / President Director of PT. Global Group Asia; (Aerospace Spare Parts Trading, subsidiary of IR)
2003 – 2004 : Chairman of PT. Industri Mineral Indonesia; (Kaolin Mining, subsidiary of IR)
2004 – now : Commissioner of PT. Citra Tubindo, Tbk; (Pipe Manufacturing, publicly listed in Jakarta, Indonesia, investment of IR)
2004 – now : Chairman of Mitra Energia Ltd. (Oil & Gas Exploration and Production, associate company of IR)
2005 – now : C.E.O. / President Director, PT. Industri Mineral Indonesia;
2005 – now : C.E.O. / President Director, PT. ILTHABI Bara Utama; (Coal Mining, subsidiary of IR)
2005 – now : Chairman of PT. Ilthabi Sentra Herbal; (Herbal Medicine, subsidiary of IR)
2006 – now : Commissioner of PT. Sarana Pembangunan Jawa Tengah; (Investment Company, owned by Province of Central Java)
2006 – now : Commissioner of PT. Global Group Asia.
2006 – now : Commisioner of Sound Oil plc (Oil & Gas Exploration and Production, publicly listed in London, associate company of IR)
Sumber:
1)selular.co.id
2)Bisnis Indonesia Edisi: 09/10/2005





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar